Sabtu, 22 Desember 2018

Meilya eka Putri Berpetualang di hutan



Suasana di hutan Macondo mulai resah. Binatang-binatang mulai ketakutan melihat ulah Si Raja Hutan yang sewenang-wenang. Sudah 1 bulan terakhir ini Si Raja Hutan lebih rakus dari biasanya. Biasanya dia hanya memakan 1 ekor binatang sehari, belakangan dia bahkan memakan 5 ekor binatang per hari. Jika Si Raja Hutan tetap rakus, maka binatang-binatang di hutan Macondo akan habis dengan cepat.

Binatang-binatang yang mulai ketakutan itu akhirnya berkumpul di tengah hutan. Hampir semua binatang hadir. Dari mulai sapi, kerbau, banteng, kambing, ular, musang, kelinci, rusa sampai monyet. Mereka sibuk mencari akal bagaimana menghentikan kebuasan Si Raja Hutan.

“Kalau tidak menemukan jalan keluar, kita akan musnah. Binatang yang dimakan Si Raja Hutan lebih banyak dari anak-anak yang kita lahirkan,” kata sapi memulai pembicaraan.

“Betul. Dalam seminggu ini saja, sudah 10 kawan kami yang dimakan Si Raja Hutan,” balas kambing dengan wajah yang resah.

“Lalu kita harus bagaimana?” tanya rusa. “Sedangkan tidak mungkin kita melawan Si Raja Hutan. Siapa yang bisa berkelahi melawan dia?”

Semua terdiam. Tidak ada yang berkata-kata.

Banteng yang paling pemberani pun hanya terdiam. Wajah-wajah mereka terlihat semakin gelisah. Tiba-tiba ada suara lantang berteriak: “Biar aku yang mencoba menghadapi Si Raja Hutan!”

Semua binatang itu menoleh ke arah datangnya suara. Tampak seekor ayam jantan sedang berdiri di atas batu. Ayam jantan itu terlihat berani. Akan tetapi, dia terlihat kecil. Badannya tidak terlalu besar, bahkan terlihat agak kurus. Bulu-bulunya juga acak-acakan. Tapi matanya terlihat tegas sekali.

Monyet yang sedari tadi diam langsung mengoceh: “Kamu siapa? Berani sekali kamu mau menghadapi Si Raja Hutan?”

“Aku Wiji Thukul, ayam jantan dari pinggir hutan. Kawan-kawanku juga sama seperti kalian. Mereka juga ketakutan. Sudah 12 kawan kami mati dimakan Si Raja Hutan,” jawabnya.

“Memangnya kamu bisa mengalahkan Si Raja Hutan?” tanya musang.

“Aku tidak tahu. Badanku kecil. Tajiku juga tidak terlalu tajam. Tapi harus bagaimana lagi? Sampai kapan kita semua berdiam diri?” jawab ayam jantan itu.

“Kamu yakin?” tanya banteng.

“Aku terpaksa melakukan ini. Daripada tidak ada yang berani? Aku akan memberanikan diri. Kalian tunggu saja di sini, aku akan segera berangkat menghadap Si Raja Hutan. Siapa tahu aku bisa membawa kabar bagus,” jawabnya pelan.

Binatang-binatang lain terpaku melihat ayam jantan Wiji Thukul itu pergi. Mereka tidak yakin ayam jantan itu bisa mengalahkan Si Raja Hutan. Tapi, diam-diam, mereka mendoakan semoga dia bisa selamat dan membawa kabar bagus.

Sore harinya, Wiji Thukul kembali lagi. Binatang-binatang itu terkejut melihat ayam jantan itu bisa kembali. Terlihat badannya luka-luka. Mata kirinya terlihat berdarah. Bulu-bulunya juga banyak yang rontok. Dia terlihat sangat capek.

“Ceritakan apa yang terjadi,” pinta ular.

“Aku menghadap Si Raja Hutan. Dia sedang menyantap seekor domba. Aku bilang padanya agar jangan terlalu rakus. Dia marah. Dia menerjangku. Untung aku sudah siap. Aku langsung melompat ke pinggir sambil menendang perutnya dengan tajiku. Rupanya tajiku bisa melukainya. Dia tambah marah dan terus menyerangku. Lama-lama aku terdesak. Aku segera kabur saja. Untung ada semak-semak, aku bisa sembunyi di situ,” cerita ayam jantan itu.

“Tuh, kan, apa aku bilang. Mustahil bisa melawan Si Raja Hutan,” oceh monyet dari atas pohon.

“Tapi aku masih selamat. Aku akan mencoba lagi besok. Aku akan beristirahat sebentar. Besok pagi aku akan berangkat lagi,” jawab ayam jantan itu. Dia lalu duduk dan beristirahat sambil tidur. Sementara binatang-binatang lain saling berbisik. Mereka malu pada ayam jantan kurus yang sangat berani itu.

Esok pagi, ayam jantan itu kembali berangkat. Binatang-binatang lainnya melepas kepergiannya. Sebelum pergi, dia berpesan: “Aku akan mencoba menghadap.

Si Raja Hutan. Mudah-mudahan aku bisa membawa kabar baik. Jika aku tidak kembali, tolong sampaikan pada keluargaku bahwa aku sudah berusaha dan mereka juga harus berani dan jangan takut.”

Sampai sore ternyata ayam jantan itu tidak kembali. Binatang-binatang itu mulai gelisah.

Mereka mengutus si ular untuk mengintip tempat Si Raja Hutan. Setelah mengintip, si ular berkata bahwa dia melihat Si Raja Hutan sedang tidur, tapi tidak melihat ayam jantan itu. Hanya ada bekas-bekas perkelahian saja, tapi tidak kelihatan di mana ayam jantan itu.

“Ke mana ya ajam jantan pemberani itu?” tanya sapi.

“Mungkin dia sudah dimakan. Entahlah. Tapi tidak ada bekasnya. Bulu-bulunya juga tidak terlihat,” lapor si ular.

Si banteng yang dari tadi terlihat duduk tiba-tiba bangkit. Dia berkata: “Aku malu pada ayam jantan itu. Badan dia kecil, tapi dia berani. Sedangkan aku yang berbadan besar begini hanya diam saja.”

“Apa yang akan kamu lakukan, wahai banteng?” tanya monyet.

“Tidak tahu. Tapi yang pasti, aku tidak bisa diam saja. Kalian juga tidak bisa diam saja,” jawab si banteng.

Semua binatang terdiam mendengar kata-kata banteng. Mereka mulai berpikir bahwa tidak ada gunanya diam saja. Jika hanya diam, satu per satu dari mereka juga pasti akan dimakan Si Raja Hutan. Malam itu juga mereka memanggil semua binatang lainnya. Semua dikumpulkan. Ada ratusan binatang berkumpul. Di bawah komando banteng, mereka akan menghadapi Si Raja Hutan besok pagi. [] @zenrs

*) Diceritakan sore hari 24 Oktober 2012. Daya tertidur sebelum cerita ini selesai dikisahkan.



Jakarta, 09 Februari 2014
Zen. RS
Sejarawan Muda dan tukang dongeng di ceritadaya.tumblr.com

Hak Cipta : Copyright  @ceritadaya.tumblr.com 2013
*Tulisan ini sadur ulang (dengan pembetulan kalimat dan tanda baca sesuai versi aslinya) bertujuan untuk pendidikan, olah rasa dan olah jiwa.
   download versi full nya ya
Disqus Comments